Anemia

A. Anemia

1. Pengertian

Anemia merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan atau masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh.(Wiwik Handayani, 2008)

Secara laboratoris anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit di bawah normal. (Wiwik Handayani, 2008).

Anemia gizi disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang berperan dalam pembentukan hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau karena gangguan absorpsi. Zat gizi yang bersangkutan adalh besi, protein, piridoksin (vitamin B6) yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis hem di dalam molekul hemoglobin, vitamin C yang mempengaruhi absorbsi dan pelepasan besi dari trabsferin ke dalam jaringan tubuh, dan vitamin E yang mempengaruhi stabilitas membran sel darah merah. (Sunita Almatsier 2005).

Anemia merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebagian besar anemia gizi ini adalah anemia gizi besi. Penyebab anemia gizi besi terutama karena makanan yang dimakan kurang mengandung besi, terutama dalam bentuk besi – hem. Di samping itu pada wanita karena kehilangan darah karena haid. (Sunita Almatsier 2005).

2. Gejala umum anemia

Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau anemic syndrome. Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa di bawah titik tertentu. gejala ini timbul karena anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin. Gejala – gejala tersebut apabila diklasifikasikan menurut organ yang terkena. (Wiwik Handayani, 2008).

  1. Sistem kardiovaskular: (1) lesu; (2) cepat lelah; (3) palpitasi; (4) takikardi; (5) sesak nafas saat beraktivitas; (6) angina pectoris; dan (7) gagal ginjal.
  2. Sistem saraf: (1) sakit kepala; (2) pusing; (3) telinga mendenging; (4) mata berkunang – kunang; (5) kelemahan otot; (6) iritabilitas; (7) lesu; serta (8) perasaan dingin pada ekstremitas.
  3. Sistem urogenital: (1) gangguan haid; dan (2) libido menurun.
  4. Epitel: (1) warna pucat pada kulit dan mukos; (2) elastisitas kulit menurun; (3) serta rambut tipis dan halus.
  5. Kriteria anemia

Batasan Anemia menurut WHO dan SE Menkes No 736a/XI/1989 apabila Hb:

(a)  Anak usia sekolah                         < 12 gram%;

(b)  Wanita dewasa                             < 12 gram%;

(c)  Ibu hamil                                       < 11 gram%;

(d)  Ibu menyusui                                < 12 gram%.

3. Prevalensi anemia di Indonesia

Perkiraan prevalensi anemia di Indonesia menurut Husaini, dkk tergambar dalam tabel.

Kelompok populasi Angka prevalensi
Anak prasekolah 30 – 40 %
Anak usia sekolah 25 – 35 %
Dewasa tidak hamil 30 – 40 %
Hamil 50 – 70 %
Laki – laki dewasa 20 – 30 %
Pekerja berpenghasilan rendah 30 – 40 %

B. Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Perkiraan prevalensi anemia secara global sikitar 51%. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang ketimbang negara yang sedang maju. Di Indonesia anemia gizi merupakan salah satu masalah gizi yang utama di Indonesia. Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, dan atau vitamin B12 yang semuanya berakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati rendah (buruk), dan kecacingan yang masih tinggi. (Arisman, 2004).

Secara umum ada tiga penyebab anemia defisiensi besi, yaitu:

(1)  Kehilangan darah secara kronis;

Pada lelaki dewasa, sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses pendarahan akibat penyakit atau trauma atau akibat pengobatan suatu penyakit. Sementara pada wanita terjadi kekurangan darah secara alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar selama menstruasi sangat banyak (banyak wanita yang tidak sadar kalau darah haidnya terlalu banyak) dan terjadi anemia defisiensi zat besi. (Arisman, 2004).

Sepanjang usia reproduktif wanita akan mengalami kehilangan darah akibat peristiwa haid. Beberapa penelitian telah membuktikan, bahwa jumlah darah yang hilang selama satu periode haid berkisar antara 20 – 25 cc. Jumlah ini menyiratkan kehilangan zat besi sebesar 12,5 – 15 mg/ bulan atau kira – kira sama dengan 0,4 – 0,5 mg sehari. Jika jumlah tersebut ditambah dengan kehilangan basal, jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1,25 mg per hari. (Arisman, 2004).

(2)  Asupan dan serapan tidak adekuat;

Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari daging hewan. Di samping mengandung banyak zat besi dari sumber makanan tersebut mempunyai angka keterserapan sebesar 20 – 30%. Sayangnya sebagian besar penduduk di negara yang belum atau sedang berkembang tidak atau belum mampu menghadirkan bahan makanan tersebut di meja makan. Ditambah dengan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi (seperti kopi dan teh) secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah. (Arisman, 2004).

(3)  Peningkatan kebutuhan

Asupan zat besi harian diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang melalui tinja, air kencing dan kulit. Kehilangan basis ini di duga sebanyak 14 µg/kgBB/hari. Jika dihitung berdasarkan jenis kelamin, kehilangan basis zat besi untuk orang dewasa lelaki mendekati 0,9 mg dan 0,8 mg untuk wanita. (Arisman, 2004).

Sumber : KTI Puspita Anggraini

               http://www.facebook.com/profile.php?id=1802384724

One thought on “Anemia

  1. Ping-balik: Kesehatan | duobulet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s