Kebudayaan Asmat

ASMAT

Hal ini menjadikan Asmat cukup terkenal sebagai salah satu lokasi wisata alam di mancanegara. Siapa yang pernah mengunjungi ke Asmat, pasti tidak akan pernah melupakan kunjungan wisata alam maupun budaya Asmat seumur hidupnya. Kenangan akan wisata Asmat ini diungkapkan Jimmy Sarkol, melalui sebuah lagu ciptaannya berjudul Asmat Situs Warisan Dunia. Melalui lagu hasil ciptaannya, putra Asmat ini mengagumi kekayaan wisata alam maupun budaya Asmat sebagai jati diri orang Asmat. Bagi orang Asmat, potensi alam dan tradisi budaya Asmat saling terkait dan tak bisa dipisahkan oleh siapapun. Integrasi antara alam dan budaya menjadi factor pendukung bagi warga Asmat untuk berkarya seni budaya. Ungkapan jati diri orang Asmat terungkap dalam hasil karya seni yang mereka hasilkan. Seperti mengukir, membuat kerajinan tangan dan menari sesuai ciri khasnya.
Potensi Wisata Budaya Ciri khas ketertarikan budaya Asmat adalah 12 rumpun (farr) di Asmat yang memiliki keunikan ragam budaya. Keunikan ragam budaya ini dibuktikan oleh ribuan seniman dan seniwati Asmat yang masih produktif berkarya hingga sampai saat ini. Di pesta budaya asmat 2009, sekitar 230 pengukir masuk nominasi. Disusul dengan 54 orang penganyam kerajinan tangan serta sekitar 140 orang penari. Sementara ratusan pengukir, penari dan pengrajin asmat hanya ikut meramaikan pesta budaya, sekalipun dengan segala keterbatasan seperti konsumsi, akomodasi dan lainnya yang jauh dari kata mendukung. Situasi dan kondisi kurangnya dukungan pemerintah dan pihak lainnya tidak bisa menyurutkan semangat mereka untuk mengukir, menari dan menganyam kerajinan tangan mereka. Terbukti seorang seniman/seniwati entah pengukir atau pengrajin bisa memproduksi hasil karyanya lebih dari satu karakter. Karya-karya ini bercerita tentang kekhasan dalam rumpun dan budaya setempat. Uniknya, karya-karya ini tidak pernah diulangi. Di lain waktu, cerita yang sama belum tentu menghasilkan hasil karya seni yang sama seperti sebelumnya. Pasti akan berbeda. Potensi ini telah memancing 500-an wisatawan local maupun asing berkunjung di kabupaten Asmat setiap tahunnya, terutama untuk menyaksikan Festival Budaya Asmat yang dilaksanakan secara reguler. Walaupun rata-rata wisatawan ini mengakui Asmat menakutkan tetapi di sisi lain mereka mengakui potensi Asmat sebagai situs warisan budaya Dunia. Untuk itu mereka menyampingkan dulu ketakutan tersebut dan berkata pada rekan mereka agar jangan takut berkunjung ke Asmat di lain waktu. Ketakutan wisata terbukti telah berubah menjadi daerah wisata yang menakjubkan dan mempesona pengunjung dan wisatawan/I tiap tahun. Banyak orang luar sampai sekarang masih memandang Asmat mena-kutkan. Dalam sejarah asmat, isu negatif seperti kanibalisme antar suku Asmat pernah memancing berbagai pihak untuk memusnahkan budaya Asmat. Seperti pemerintah Indonesia di Tahun 70-an yang memusnahkan bangunan adat, rumah bujang (Jew), karena dianggap sebagai sumber timbulnya kanibalisme di antara suku Asmat. Tetapi semua ketidaktahuan orang luar itu hanyalah kelemahan bagi pihak tertentu atas misteri kehidupan orang Asmat.(Willem Bobi/Asmat)

One thought on “Kebudayaan Asmat

  1. Ping-balik: Kebudayaan | duobulet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s