Kebudayaan Minang

rumah-adat_minang

          Dalam pola keturunan dan pewarisan adat, suku Minang menganut pola matrilineal, yang mana hal ini sangatlah berlainan dari mayoritas masyarakat dunia menganut pola patrilineal. Terdapat kontradiksi antara pola matrilineal dengan pola pewarisan yang diajarkan oleh agama Islam yang menjadi anutan hampir seluruh suku Minang. Oleh sebab itu dalam pola pewarisan suku Minang, dikenallah harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi merupakan harta turun temurun yang diwariskan berdasarkan garis keturunan ibu, sedangkan harta pusaka rendah merupakan harta pencarian yang diwariskan secara faraidh berdasarkan hukum Islam.
Meskipun menganut pola matrilineal, masyarakat suku Minang mendasarkan adat budayanya pada syariah Islam. “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai.”

1. Upacara dan Festival :

a.Turun mandi
b. Batagak pangulu
c. Turun ka sawah
d. Manyabik
e. Hari Rayo
f. Tabuik

2. Kesenian :

a. Randai
b. Pencak Silat
c. Saluang
d. Talempong
e. Tari Piring
f. Tari Payung
g. Tari Pasambahan
h. Tari Indang
i.  Sambah manyambah

3. Kerajinan Tangan :

Songket yang dikerjakan oleh Pandai Sikek

4. Makanan :

a. Rendang
b. Sambal Balado
c. Kalio
d. Gulai Cancang
e. Samba Lado Tanak
f. Palai
g. Lamang
h. Bubur Kampiun
i. Es Tebak
j. Gulai Itik
k. Gulai Kepala Ikan Kakap Merah
l. Sate Padang
m. Soto Padang
n. Asam Padeh
o. Keripik Jangek
p. Keripik Balado
q. Keripik Sanjai
r. Dakak-dakak
s. Galamai
t. Amping Badadih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s